On Top of Toompea Hill

Puas blusukan di Lower Town dari Tallinn Old Town, gue lanjut ke Toompea Hill. Awalnya gue sempat bingung juga mencari jalan ke sana dari dalam Lower Town – inilah hasil jalan-jalan nekad nggak punya SIM Card lokal & no Wifi. 😁 Akhirnya setelah sempat nyasar dan keluar masuk gang, gue sampai juga di jalan kecil dengan tangga batu menuju Lühikese jala väravatorn (Short Leg Gate Tower). Permukaan tangganya nggak begitu mulus juga, jadi harus hati-hati deh, apalagi kalau lagi pakai heels.

Di balik Short Leg Gate ini masih berdiri kastil, menara batu, Katedral Alexander Nevsky, Katedral St. Mary, dan beberapa bangunan tua lain yang difungsikan sebagai sekolah, kantor pemerintahan, dll. Di sini juga ada taman kecil yang berfungsi sebagai viewing platform ke arah Lower Town. Ya kalau jaman baheula, para penghuni kastil dan pejabat pemerintahan bisa duduk-duduk cantik sambil mengawasi para rakjel dari situ. Taman ini namanya Danish King’s Garden karena ceritanya dulu Raja Valdemar II dari Denmark dan pasukannya sempat camping di sini sebelum merebut Toompea di tahun 1219. Konon juga bendera Denmark (“Dannebrog”) turun dari langit di sini saat pertempuran antara pasukan Denmark melawan suku-suku Jermanik dan Estonia. Saat itu pasukan Denmark hampir kalah, tapi begitu melihat bendera itu jadi semangat lagi dan menang deh. Pertempuran ini terkenal dengan sebutan Battle of Lyndanise. ‘Lyndanise’ sendiri bisa diterjemahkan sebagai dada atau nipple Linda (huh??), istri dari pahlawan raksasa Raja Kalev dalam mitologi Estonia, Finlandia dan Karelia di Eropa Utara (Btw, menarik juga loh baca sejarah negara-negara Baltik ini).

Nah, di Danish King’s Garden ini ada dua menara, Tallitorn (Stable Tower) dan Neitsitorn (Virgin Tower). Gue sempat naik ke dalam Tallitorn dan dari situ bisa lanjut menuju Cafe Dannebrog di sepanjang wall walkway dan menyeberang ke Neitsitorn buat ngopi-ngopi di museum cafe yang ada di situ.

Namanya bangunan tua, nggak lengkap kalau nggak ada cerita horrornya. Misalnya Short Leg Gate Tower, konon sering ada penampakan biarawan yang pernah dieksekusi, singa sampai kapal layar jaman dulu. Atau Neitsitorn atau Virgin Tower yang ironisnya dulu dijadikan penjara untuk para pelatjoer. Terus ada pelatjoer yang mukanya di bawah standar memutuskan untuk bikin perjanjian sama setan – dia dijadikan cantik dan si setan bakal mendapatnya jiwanya. Ternyata standar T&C kolab sama syaiton sama aja di mana-mana ya. Sebagai bagian dari T&C ini, si pelatjoer ini juga boleh menggoda penduduk laki-laki biar berdosa juga. Tapi mungkin penduduk di situ lama-lama gerah, akhirnya mereka mengeksekusi si pelatjoer dengan tuduhan dia itu penyihir. Masih belum selesai sampai di situ, konon juga belakangan sering terdengar suara senandung laki-laki dari dalam menara, dan setelah dicek ternyata di dalamnya kosong nggak ada orang.

Melewati gerbang Tallitorn, sampailah gue di Katedral Alexander Nevsky. Interiornya khas gereja ortodoks Rusia – ada icon, mosaik, dan penuh ukiran berlapis cat emas. Sayangnya pengunjung nggak boleh foto-foto sama sekali di dalam, jadi gue hanya punya dokumentasi eksteriornya aja. Waktu itu anginnya kencang banget, mungkin karena posisi Toompea Hill ini lumayan tinggi juga (puncaknya mencapai 48 meter di atas permukaan laut), jadi sembari menggigil kedinginan gue foto-foto apa adanya deh.

Gereja dengan arsitektur khas Orthodox Rusia ini selesai dibangun tahun 1900 saat Estonia masih di bawah Kekaisaran Rusia. Sesuai namanya, Katedral ini didedikasikan untuk Alexander Nevsky, pangeran dari Novgorod. Ada 11 lonceng di menaranya, termasuk salah satunya lonceng terbesar di Tallinn seberat 15 ton. Bangunan cantik inilah yang mendorong gue untuk jalan ke Rusia setahun kemudian.

Di sebelah barat Katedral ada Toompea Castle. Aslinya dibangun di abad ke-13 dan 14, tapi tentunya sudah di-make over berulang kali dong. Sekarang kastil ini berfungsi jadi gedung Parlemen dengan warna pink cerah dengan bagian depan (facade) bergaya Baroque dari abad ke-18. Oh ya, di sisi belakang kastil masih ada dinding benteng batu lengkap dengan menara-menaranya yang dibangun antara abad 14-15, salah satunya Pikk Hermann (Tall Hermann Tower). Menara setinggi 45 meter ini dulunya pernah menjadi menara batu tertinggi di area Laut Baltik di abad Pertengahan. Di menara in juga bendera nasional Estonia pertama kali dikibarkan tanggal 12 Desember 1918 – dan masih berkibar sampai sekarang.

By the wayyy.. Sambil gue ngetik ini, mendadak gue jadi teringat sesuatu. Old Town dengan Toompea Hill ini mengingatkan gue sama kota Bergamo dengan Lower dan Upper Town-nya. But that’s another story for another time!

Share

ACN Written by:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *